Rabu, 15 Agustus 2012

Pertanyaan kritis (krisis): janin dan impotensi

Bismillahirrahmanirrahim

Ini tulisan lagi dari Bunda
tentang anak-anak (lagi) dan lagi 

tadi saat nunggu ojek jemputan di belakang mall dekat kampus
Bunda bersama Eisha duduk di kursi umum

lalu Eisha pun bertanya?


"Bunda, janin itu apa sih"

Bunda agak bingung kenapa Eisha tiba-tiba bicara janin...
tapi ya Bunda jawab "janin itu bayi yang masih berada dalam kandungan ibu yang hamil, namanya janin"
"Kalau sudah dilahirkan namanya bukan janin lagi, tapi bayi, baby."

Eisha diam..
Lalu Eisha tanya lagi: "gangguan kehamilan dan janin itu apa Bunda"
nah Bunda baru ngeh kalau pertanyaan Eisha konteksnya adalah seputar bahaya rokok...

Bunda mengawasi mata Eisha 
ternyata terpaku di spanduk rokok tepat di depan kita duduk
dibawahnya ada tulisan peringatan bahaya rokok

Jawab Bunda: "gangguan pada kehamilan dan janin itu seperti begini: janin di perut ibu yang tidak bisa tumbuh sehat, misalnya terkena penyakit atau tidak bisa tumbuh besar, karena ibunya merokok"

Tanya Eisha lagi: "bisa sampai mati?"
Glek, hmmm 
Bunda jawab:"iya mungkin saja sha, 
kalau janinnya terkena penyakit yang sangat parah akibat dari asap rokok yang dihisap ibunya"
sambung Bunda lagi (niatnya menegaskan): "makanya kalau ibu hamil itu tidak boleh merokok"

Tanya  Eisha: "loh jadi ibu yang tidak hamil memang boleh merokok ya?"

*waaaa kurang jelas ya Bunda jelasinnya he he*

"Yaa ga boleh juga sha, baik ibu hamil maupun yang tidak hamil tidak boleh merokok, 
semua orang kalau bisa ya tidak merokok"

Bunda sambung lagi: "kan itu ada di tulisannya, 
mereka bisa kena penyakit kanker dan jantung kalau merokok"

Eisha diam *sepertinya sedang mencerna*

Tak berapa lama Eisha bertanya lagi: "kalau impotensi itu apa Bunda?"

glekkkkkk, hadeeeh 
gimana ya ini cara jelasinnya? 


Senin, 13 Agustus 2012

Mimpi di malam Ramadhan

Bismillahirrahmanirrahim


Subhanallah, di Bulan Ramadhan ini
inspirasi Bunda menulis di blog ini (padahal sudah mau ditutup) ada saja.
Seperti cerita tadi malam yang coba Bunda dokumentasikan disini ya:

Tadi malam selepas shalat malam jam tiga, 
Eisha bilang ke Bunda,
katanya tadi malam ia bermimpi bertemu Rasulullah. 

Subhanallah, Bunda tanya seperti apa Rasulullah? 
Kata Eisha hanya melihat badannya saja: "gagah dan rambutnya berwarna hitam." 

Bunda tanya kembali: 
"Seperti apa wajah Rasulullah?"
Jawab Eisha: "wajahnya tak terlihat jelas, tapi bercahaya Bunda"

Kata Eisha lagi: "Rasulullah mengelus-elus kepalaku, Bunda." 

Dan tiba-tiba mata Eisha mengeluarkan air mata, 
sambungnya sambil terisak: "Aku Rindu Rasulullah". 

Bunda pun ikut terisak *sama-sama menahan rindu* 




Rabu, 08 Agustus 2012

Blog MP, semut, dan panasnya neraka

Bismillahirrahmanirrahim

Judul diatas provokatif sekali ya kelihatannya? 

Soalnya baru saja Bunda semangat (lagi) mau nulis blog lagi, 
eh Om Stef tega-teganya mau hapus blog-nya multiply 
dan lebih  konsen ke market place, duh mengecewakan

soalnya di multiply ini saya merasa bisa baca-baca sharing 
pengalaman orang-orang dan teman-teman, 
selain belanja (memang), tapi belanja kan sampingan. 
Yang menjadikan mp itu ramai kan ya blog community-nya 

yang kemudian jadi ajang jual-beli online. 
Yakin deh nanti kalau blog ditutup jual-beli mp pun bakalan sepi 


tapi jangan menyerah, yuk kita ikutan petisi menolak penghapusan blog di multiply, dengan ikutan petisinya di link ini ya:



Nah berharap ini bukan postingan terakhir Bundadi blog MP, 
Bunda mau tulis (lagi) cerita tentang Eisha dan Safa 
yang sudah besar-besar sekarang (kata Ammah Sita) 


********************************************************

Safa dan Semut


Kemarin diteras depan rumah, bunda menjumpai banyak sekali semut
Ternyata banyak sekali serpihan-serpihan roti di teras
Dan yang makan roti memang hanya Safa saat itu
Jadi Bunda menggugat ke Safa
"Safa, kok banyak semut?"
"Safa buang rotinya smbarangan ya? kalau buang sesuatu itu di tempat sampah kan?"

Eh Safa malah menjawab:
"iya itu Bunda, aku taruh roti-rotinya disitu"
"untuk semut-semutnya makan"

"soalnya kasian kan Bunda,semut-semutnya kelaparan, jadi aku kasih roti"
Hoalaaaaaah Safaa, segitu sayangnya ya kamu sama hewan, termasuk semut

*****************************************************************************

Eisha dan Bu Men: Panasnya Neraka

Beberapa malam lalu, sepulang tarawih di masjid perumahan, 
seorang ibu paruh baya menghampiri saya, 
ternyata ibu itu bernama Ibu Men,
Ibu Men menyapa saya: "Ini Bunda-nya Eisha ya?" 
Saya mengiyakan. 

Lalu ibu Men bercerita bahwa Eisha kerap bercakap-cakap di masjid dengannya.
Eisha kerap menjadi teman ngobrolnya saat shalat di masjid. 
Bu Men bercerita ke saya, ada satu percakapan dengan Eisha yg berkesan dihatinya. 

Ceritanya, saat shalat isya beberapa waku lalu, kipas angin di masjid mati, 
Bu Men bilang ke Eisha: "Eisha malam ini masjid panas sekali nak, kipasnya mati, haduh lihat tuh orang-orang kepanasan, termasuk Ibu dan Bapak-bapak yg shalat isya." Kata Bu Men.

Eisha menanggapi dgn kata-katanya ini: 
"Ibu, ibu tidak boleh berkata begitu. 
Karena kita belum pernah merasakan panasnya api neraka, 
yg panasnya lebih panas dari ini kan Bu..." 

Bu Men berkata ke saya: 
"itu perkataan eisha langsung menancap sekali dihati saya yg mendengarnya, subhanallah". 

*Subhanallah nak, Bunda pun bersyukur mendengan cerita Bu Men,
*semoga Allah selalu menjagamu dlm nilai-nilai-Nya ya*

Selasa, 24 Juli 2012

Celetukan-celetukan Sholehah :)

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah lama sekali ya Bunda tidak menyambangi rumah maya yang satu ini
dan sdh banyak juga cerita tentang Eisha Safa yang tidak tercatat (hiks)

Nah mumpung bulan Ramadhan...
Bunda mau tulis celetukan-celetukan Eisha Safa edisi sholehah Nahini ceritanya:

***********************************************

Catatan Bunda (20 Juli 2012)

Malam hari Eisha bilang begini,
"Bunda aku tadi subuh bangun, tp yg lain blm bangun,jd aku sholat sendiri."
Bunda: "pinter Eisha, pinternya anak Bunda"
Namun Eisha menyahut lagi:
"tapi Bunda aku kerjakan shalat tadi subuh bukan berharap pujian Bunda kok,
tapi memang hanya karena Allah."

*wah naaakk dengar jawaban kamu jadi berbunga2 hati Bunda*


***********************************************************************

Catatan Bunda (23 Juli 2012)

Pengalaman Bunda diingatkan Safa:
Dua hari lalu Safa menari-nari di kamar,
saking semangatnya menari Safa hendak menarik tali baju di lemari baju.
Bunda yang melihat mendadak gusar,
karena khawatir seluruh baju berhamburan jatuh dan berantakan.
Spontan Bunda berteriak:
"Safaaa, duh jangan, itu kan baju!.
Safa yang kaget pun bilang: Bundaa, kasih taunya yang baik ya
*dengan nada yg sangat lembut*
*malu hati Bunda jadinya yaaa*


*************************************************

Catatan Bunda (25 juli 2012)
Ini obrolan anak-anak edisi Ramadhan.
Tadi pagi si Mba ajak adik Safa nyanyi pelangi-pelangi.
Kakak Eisha ikutan nyanyi bareng.
Nah, sampai bait terakhir, "pelangi-pelangi ciptaan......."
Si Mba nyanyinya "ciptaan Tuhan" sementara Eisha nyanyi "ciptaan Allah".
Kata Mba: "ih Kak Eisha, kok bedaa??".
Kata Eisha: "ih mba Utin, memang harusnya ciptaan Allah, bukan Tuhan. Tuhan itu kan belum tentu Allah, Tuhan bisa juga patung atau yang lain, yang disembah sama orang musyrik"

*hihi si Mba, pagi-pagi sdh diceramahin anak kecil *

Senin, 20 Februari 2012

Obrolan Suka-suka Anak: Buah, Beda Rasa, dan Mouse :)

Bismillahirrahmanirrahim
Sudah lama Bunda tidak menulis catatan tentang Safa
Berikut Bunda tuliskan rekaman obrolan suka-suka Safa (4 tahun)
jadi nanti jika dibaca kembali oleh Bundanya atau Ayah Safa,
akan menghibur hati

*************


Tentang Buah

Bunda: Safa suka buah apa?
Safa: aku suka buah banyak: rambutan, klengkeng, apel, anggur,
pisang, lechee, jeruk, manggis
Bunda: Kalau mangga?
Safa: kalau mangga yang manis aku suka
Bunda: hmm kalau Duren?
Safa: aku ga suka, soalnya ada tusuk-tusuknya
(maksudnya duri hihi)
Bunda: kalau nanas
Safa: kalo nanas, safa belum coba, nanas yg kayak apa?
Safa melanjutkan: mmmmmm nanas tuh yg kayak rumahnya sponge bob ya?

he he he wah iyaa sih
*dasar anak sekarang kok larinya ke situ ya *


**************************

Tentang Rasa

Bunda dan Safa ceritanya sedang mengisi lembar belajar
yang baru saja dibeli di toko buku

Perintah 1: Lingkari makanan yang rasanya manis dengan warna merah
Safa melingkari gambar gula, anggur, dan pisang dengan spidol merah
Bunda: loh kok gambar coklatnya ga dilingkari,Safa?
Safa: mmm enggak, kalo coklat kan rasanya enak, Bunda
**hooo begitu yaaa beda ya enak sama manis? ***


Perintah 2:  Lingkari makanan yang rasanya asam dengan warna kuning
Safa melingkari gambar jeruk lemon dan apel berwarna hijau dengan spidol kuning
Bunda: kok gambar jeruk yg lain (orange) ga dilingkari Safa?
Safa: tidak nda, jeruk orange kan rasanya bukan asam
tapi manis sama asam, Safa sukaa....

****Hooo iya juga  rasanya jeruk manis-manis asam ya :)*


********************************************

Tentang Hewan

Ceritanya Safa habis dari Kebun Binatang liburan yang lalu
lalu Ayah bercakap-cakap sama Safa

Ayah: Safa apa ya bahasa Inggrisnya Burung?
Safa: Bird
Ayah: pintar, kalau bahasa inggrisnya gajah?
Safa: oh, elephant
Ayah: nah sekarang, kalau tiger itu apa ya?
Safa: hiii itu kan macan, Safa takut macan
Ayah: wah takut kenapa?
Safa: iya , Safa takut diterkam sama macan
Ayah: ga kok, kan macannya dikurung, jadi ga bisa keluar
Ayah melanjutkan:  kalau crocodile itu apa, Safa?
Safa: hii Safa juga takut sama crocodile, kemarin liat di kebun binatang,
crocodile itu kan buaya
Ayah: wah Safa pinter, nah sekarang, kalau mouse itu apa ya safa?
Safa: ohhh, aku tahu Ayah, kalau mouse itu kan yang buat main komputer!

*grrrrrrrrr ha ha dasar anak komputer * 

Jumat, 17 Februari 2012

Kisah Si Ranking 23 di Sekolah

Bismillahirrahmanirrahim
Kisah cerita ini baru saja saya baca di milis pengajar kampus
Sumber pertamanya tidak jelas memang
saya sudah berusaha mencari sumber pertamanya di Google, tapi tidak ketemu juga
mungkin sudah banyak yang membaca kisah ini ya
kisah menarik sekali tentang anak,
bisa menjadi pelajaran untuk kita sebagai orang tua.
Insya Allah

******************************************************

Kisah Si Ranking 23 di Sekolah:
“Aku Ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”


Apakah Anak-ku harus rangking 1?

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran

Senin, 14 November 2011

Matahari, Allah, dan Lapar di Surga

  Bismillahirrahmanirrahiim

Percakapan dengan anak sangat menghibur kita ayah dan bundanya.
Mereka siap bercakap, berbicara, dan bertanya tentang apa saja yg terlintas di fikiran mereka.

Unik, lucu dan terkadang mengagumkan melihat pembicaraan anak-anak ini ya.

***Matahari dan Allah***

Saat makan bersama dengan Ayah dan Bunda, anak-anak mengobrol tentang Matahari

Eisha:" Bunda, sinar ultraviolet matahari itu merusak ya?"
Bunda: "Tidak juga Eisha, sinar ultraviolet matahari hanya akan merusak bila terlalu banyak"

Bunda menyambung: "Tapi sinar ultraviolet juga bermanfaat kok, dia bisa mematikan kuman, bakteri, juga mengandung vitamin D untuk pertumbuhan tulang kita"

Eisha: "oh begitu"

Eisha bertanya lagi: "Kalau matahari dengan Allah itu besaran siapa ya?"

Adik Safa yg sedang makan (tapi ternyata ikut mendengarkan) bersegera menjawab: "Ya Allah -laaah"
"Allah lebih besar"

****ah Safa pintaar :) ****

Lanjut lagi percakapan yang lain, di malam yg sama, saat makan

Eisha: "Bunda, aku pingin sekali masuk Surga"

Bunda: "iya, insya Allah, Kalau Eisha baik juga hapal Qur'an, Eisha pasti masuk surga" :) *ini ceritanya Bunda memotivasi*

Bunda lanjutkan: "nanti Surganya memangil-manggil: Eisha anak sholehah, mari masuk kesini"

Eisha dan Safa tertawa :D

Eisha lanjut bertanya: "Bunda, memang di Surga, orang tidak merasa lapar ya? "

Jawab Bunda: "iya, di Surga, orang tidak akan merasa lapar juga tidak akan merasa ngantuk"

Eisha bertanya lagi: "Kalau di Surga orang tdk merasa lapar, lalu kenapa di Surga banyak makanan, Bunda? "

Bunda: errrr.....*kenapa ya,Bunda bingung jawabnya* :P

Melihat Bunda diam-mikir, Ayah bantu menjawab: "Iya, karena di Surga banyak makanan itulah, jadi orang tidak merasa lapar. Jika Eisha mau makan, makanan langsung datang, jika mau sesuatu langsung ada, begitu..."

Eisha: "oh begitu..."


***anak-anak, obrolannya membuat ayah Bunda berfikir dan tersenyum :D***

"Anak-anak kecil dan orang-orang jenius mempunyai persamaan yang penting - rasa ingin tahu. Biarkan rasa ingin tahu itu berkembang pada masa kanak-kanak, sebab mungkin mereka akan menemukan sesuatu yang ditemukan orang-orang jenius" -Edward G. Bulwer Lytton

Powered by Telkomsel BlackBerry®




Kamis, 10 November 2011

Percakapan Edisi Go Green

Bismillahirrahmanirrahim

Benar ternyata, sepertinya menanamkan sikap baik dan positif lebih efektif kepada anak-anak (dibanding ketika dewasa) ya.

Anak-anak lebih menyerap penjelasan positif dan langsung mengamalkannya :)

****

Sepertinya belakangan ini, Eisha menerima materi tentang cinta lingkungan dan hidup go green di sekolahnya, karena berkali-kali Eisha bertanya ke Bunda tentang: apa itu go green, kenapa kita harus hemat air, kenapa kalau pergi lampu harus dimatikan, dan lain-lain

***

Ternyata anak-anak ini mendengarkan penjelasan, dan menancapkannya dalam hati. Mungkin tidak seperti kita (orang dewasa) yg kadang lupa, atau kalau kata orang: masuk kuping kiri keluar kuping kanan he he

Anak-anak justru ingat dan langsung mengamalkan apa yang didengar dan diresapi

***

Suatu sore, adik Safa mencuci tangan di wastafel dengan menyetel air kerannya sangat besar.

Kata Kak Eisha: "Safa, setel air kerannya jangan besar-besar."

Kata Safa: "iyyaa"

Kata Kak Eisha: "kita harus hemat air. Jangan buang-buang air. Kita harus Let's keep the green"

***wah Kakak :) ***

Suatu sore, adik Safa mengambil gunting hendak menggunting-gunting kertas

Kakak Eisha yang melihat, bilang ke adik:
"Safa, kalau mau menggunting pakai kertas bekas saja ya, jangan kertas yang baru"

Adik Safa: " iyaa"

Kata Kak Eisha: "kasihan soalnya pohon banyak ditebang untuk kertas, nanti hutannya jadi gundul"

Bunda yang dengar: "Memang kenapa kalau hutannya gundul Sha"

Kata Eisha: "nanti jadi banjir, dan bumi jadi rusak, tanahnya jadi retak-retak"

Hoooo I see, begitu ya :D




Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 08 November 2011

Cinderella di Rumah

Bismillahirrahmanirrahim

Ceritanya sudah beberapa minggu ini
Tidak ada Mbak ART di rumah.
Jadinya pekerjaan rumah seperti beberes rumah dan kamar, serta memasak makanan untuk Eisha dan Safa di-handle oleh Ammah (Tante) Peni, adik Bunda.

Bunda ke Ammah: "Ammah, terima kasih yaa sudah rapihkan kamar eisha safa, juga memasak makanan Eisha Safa"

Ammah Peni: "iyaaaa "

Ammah Peni ini memang pintar masak, terutama masak kue pancake kesukaan Eisha Safa :)

Eisha yg dengar Bunda berterima kasih ikutan bicara: "Iyyaaa, ammah baik deh, seperti Cinderella, suka bersihkan rumah, suka memasak, suka mengepel..Ammah rajin..:)"

Hohoho, hehehehehe


Eisha, Eisha, kok Ammah dikaitkan dongeng ya :D

Kata Ammah: "iyya deh gpp kayak Cinderella, nanti ketemu pangeran baik hati dan ganteng yaaa"

Huehehe Iya deh, Aamiin :D , semoga Ammah ketemu Pangeran sholeh dan baik hati yaa...


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 26 Oktober 2011

Kebanggaan Tauhid


Bismillahirrahmanirrahim

Penting memang mendidik anak di awal fase pendidikannya dengan pengenalan terhadap Penciptanya, Allah swt, sering kita sebut Ma'rifatullah.
Karena insya Allah ini akan jadi pegangannya dalam hidup

Karenanya saat memasukan sekolah anak, maka yang terpenting adalah apakah sekolah anak kita bisa mendekatkan ia dengan Pencipta-Nya, Mengenal Allah dengan lebih dekat.

Sekolah TK Safa saat ini sekarang bukan sekolah TK yang mahal, pun tidak terkenal, fasilitasnya juga standar saja, cara belajarnya pun lebih banyak bermain dan menyanyikan lagu-lagu, namun Bunda gembira karena di sekolah ini Safa belajar banyak tentang Islam, dan mengenal Allah swt, Penciptanya:)

alhamdulillah......

*****cuplikan cerita Safa: Tauhid 1 *******

Ayah bertanya ke Safa: "Safa Tuhan kita ada berapa? Banyak ya? Ada lima ya?" (Pertanyaan utk mengetes)

Safa: "Tuhan kita satu, Ayah. Cuma Satu"

Ayah: "Siapa Tuhan kita,Safa?" "Siapa Tuhan yang satu-satunya kita sembah?"

Safa: "Alloh, Alloh Subhanallahu wa Ta'ala, Ayah"

***anak sholehah, senangnya mendengar jawaban kamu ini nak :)***



****cuplikan cerita Safa: Tauhid 2*****

Suatu ketika Safa bermain dengan sepupunya yang seumuran namanya Ali.
Bunda mendengar diam-diam obrolan mereka saat bermain bersama.

Ali: "Safa, jangan main disitu, ada setannya"
Safa: "gapapa Ali ga usah takut, gapapa"
Ali: "hii ada setannya lo Safa"
Safa: "gapapa, kalau ada setan, kita berdoa sama Allah, ayo Ali, kita berdoa. Setan itu takut sama Allah"

***oh Safa, tauhidmu membanggakan hati kami yang mendengarnya, subhanallah :)****

Tetaplah seperti itu, tetapkan Allah dihatimu ya nak :) Semoga Allah SWT selalu menjagamu...


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 23 Oktober 2011

Bagaimana Cara Mencetak Anak Nakal?


Bismillahirrahmanirrahim

Pagi ini saya membaca postingan link seorang teman di FB dan menemukan artikel berikut, cukup menghentak dan memberi banyak insight untuk kita, para orang tua. Bahwa apa-apa yang kita lakukan (yang mungkin sering kita anggap wajar) memberikan efek negatif kepada anak di masa depannya.

Saya share disini, semoga bermanfaat, sumbernya dari link ini: http://m.kompasiana.com/post/edukasi/2011/10/24/bagaimana-cara-mencetak-anak-nakal/

**************

Bagaimana Cara Mencetak Anak Nakal?

Oleh: Cahyadi Takariawan | 24 October 2011 | 07:47 WIB

Departemen Kepolisian Texas pernah merilis “Postulat untuk Membesarkan Anak- anak Nakal” dalam rangka propa­ganda anti anak nakal. Terjadi kegelisahan yang amat serius pada pemerin­tah kota Houston, Texas, lantaran banyaknya kejahatan yang dila­kukan oleh anak-anak belia, hingga akhirnya dibuatlah kampanye dan propaganda besar-besaran untuk menekan jumlah kejahatan mereka.

Berikut ini beberapa postulat untuk membesarkan anak-anak nakal, mungkin ada manfaatnya bagi kita.

1. Sejak bayi, berikan kepada anak segala yang ia inginkan. Dengan demikian, ia akan percaya bahwa dunia berhutang budi kepadanya.

2. Pada waktu ia mengucapkan kata-kata yang tidak patut, tertawakanlah agar ia merasa bahwa ia lucu.

3. Jangan pernah memberi pendidikan ruhaniah kepada anak. Tunggulah sampai ia berumur 21 tahun baru kemudian ia akan memil­ih untuk dirinya sendiri.

4. Jangan pernah mengatakan “salah” kepadanya. Kata itu akan mengembangkan rasa bersalah yang kompleks. Hal itu menjadikan ia di kemudian hari apabila ditangkap karena mencuri mobil akan merasa bahwa penangkapan itu merupakan penganiayaan.

5. Biarkan saja dia berbohong. Lakukanlah segalanya bagi anak, agar ia berpengalaman melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

6. Biarkan ia membaca apa saja yang dapat ia peroleh sendiri. Biarkan pikirannya berpesta pora di keranjang sampah.

7. Sering-seringlah bertengkar di hadapan anak anda. Dengan demikian mereka tidak akan terkejut apabila di kemudian hari keluarganya berantakan.

8. Berilah uang yang mereka butuhkan. Jangan pernah membiarkan anak menabung untuk dirinya sendiri.

9. Puaskan segala keinginan makanan, minuman, dan kesenangannya. Lihatlah, apakah segala keinginan nafsunya telah terpenuhi?

10. Pada waktu ia sungguh-sungguh dalam kesulitan, maafkanlah diri Anda sendiri dengan mengatakan, “Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi.”

Apakah kita sudah melaksanakan sepuluh postulat di atas, keseluruhan atau sebagiannya ? Jika sudah, artinya kita telah terlibat dalam mencetak dan membesarkan anak-anak nakal.
Berhentilah melakukannya !


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 19 Oktober 2011

Catatan Kecil Safa


Bismillairrahmanirrahiim

Kalau dulu yang suka celotah-celoteh adalah Kakak Eisha, sekarang yg paling bawel di rumah adalah Adik Safa.

Cerita-cerita tentang Safa-nya mau Bunda tulis di bog mp, sebelum lupa...:)


****
Bunda pulang dari kampus melihat tempat tidur berantakan, dan gemes jadinya langsung dirapihkan.

Safa yang milhat Bunda, ikut bantu merapihkan, menarik sepreinya dari ujung-ujung :),

Kata Bunda ke Safa: "Safa pintar ya, bantu Bunda",
Eh Safa malah jawab: "emang iya , ayo Bunda bilang terima kasih ke Safa"

He he he iyya deh, makasih ya, Safaa :P

****
Safa lagi menggambar dilantai, dan Bunda lewat disampingnya Safa
Tidak sengaja sedikit menginjak jari kelingking Safa
Belum sempat Bunda minta maaf, Safa sudah langsung bilang: "aduh,Bunda,jari Safa nih kena, ayo Bunda minta maaf ke Safa"

Oh iyaa maaf deh Safaa, Bunda ga sengaja :P

****

Suatu malam, Kakak Eisha sudah tidur lebih dulu dari Safa. Safa masih belum ngantuk tampaknya, jadi masih menggambar sana-sini dan bermain krayon

Capek menggambar, Safa mengambil posisi tidur. Tapi Safa mengambil selimut strawberry yang menyelimuti Kak Eisha.

Bunda tanya: "Loh Safa, Kan itu selimut buat Kak Eisha, kok diambil, kasihan dunk kak Eisha nanti kedinginanan"

Safa menjawab sekenanya: "Kata Kak Eisha, Kak Eisha ga mau selimut, katanya Kak Eisha kegerahan, mau yang dinginnn Bundaa"

Lo lo lo.....gitu ya *kapan juga kak Eisha ngomongnya yaa :D*

****

Safa bercakap-cakap dengan Ammah Peni.
Safa: "Ammah, garam itu asalnya dari mana"
Ammah Peni: "dari air laut, garamnya diambil dari air laut yg asin, dipanaskan, air lautnya menguap, nanti garamnya tertinggal deh"

Safa: "hmm kalau gitu kalau nanti garamnya diambil terus dari air laut, nanti garamnya jadi habis dong, terus ambil dimana lagi?"

Wah si Ammah bingung ambil dimana lagi ya nih garem? "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮...

***

Kak Eisha dan Safa bertengkar karena Kak Eisha meminjam buku Safa tapi tidak mau dikembalikan

Safa menangis

Bunda yg melihat, menasihati (mungkin lebih bisa dibilang: memarahi) kak Eisha, karena kak Eisha tidak mau kembalikan buku Safa.

Eisha diam mendengar Bunda. Hening.
Tapi adik Safa malah bilang begini: "Bunda, jangan marahi Kak Eisha, kasihan, Safa sayang sama Kak Eisha"

Looooohhhh gimana toooohhhh...:D

Safa, Safa....

***
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 17 Oktober 2011

Insiprasi dari CEO’s Note – Dahlan Iskan (PLN)

Bismillahirahmanirrahiim
Pagi ini saya membaca tulisan ini di milis yang saya ikuti, karena inspiratif, saya share disini ya, semoga bermanfaat :)

*****

Insiprasi dari CEO’s Note – Dahlan Iskan (PLN)

Ini adalah CEO’s Note Dahlan Iskan yang saya terima dari teman. CEO’s Note ini terbit di kalangan internal PLN dan dipublikasikan pula oleh Jawa Pos. Semoga menginspirasi.

Dahlan Iskan: Dua Tangis dan Ribuan Tawa

Minggu lalu genap enam bulan saya menjadi CEO PLN. Ada yang bilang ”baru” enam bulan. Ada yang bilang ”sudah” enam bulan.

Betapa relatifnya waktu…

Selama enam bulan itu, saya dua kali sakit perut serius. Setengah hari saya tidak bisa bekerja, kecuali hanya tidur lemas di bilik di belakang ruang kerja Dirut PLN.

Sebenarnya, saya harus mewaspadai sakit perut seperti itu melebihi sakit lainnya. Sebab, kata dokter, sakit perut merupakan tanda awal mulai bermasalahnya transplantasi hati yang saya lakukan tiga tahun lalu. Mungkin saja itu merupakan tanda awal bahwa "hati"nya orang lain yang sekarang saya pakai ini mulai ditolak oleh sistem tubuh saya. Begitulah kata dokter.

Syukurlah, sakit perut itu cepat hilang tanpa saya harus minum obat. Saya memang tidak boleh sembarangan minum obat, khawatir berbenturan dengan obat transplan yang masih harus saya minum setiap hari.

Tiba-tiba saja, ketika hari sudah berubah siang, ketika rapat penting yang telanjur dijadwalkan tersebut harus dimulai, sakit itu sembuh sendiri…

Selama enam bulan itu, seingat saya, belum pernah saya absen. Saya memang sudah berjanji kepada diri sendiri: Selama enam bulan pertama sebagai Dirut PLN, saya tidak akan mengurus apa pun kecuali listrik

Tidak akan pergi ke mana pun kecuali urusan listrik. Tidak akan bicara apa pun kecuali soal listrik. Karena itu, kalau biasanya dulu setiap bulan saya bisa dua-tiga kali ke luar negeri, selama enam bulan di PLN ini, saya tidak ke mana-mana.

Untuk itu, saya harus minta maaf kepada famili, teman dekat, dan pengurus berbagai organisasi yang saya ketuai. Selama enam bulan tersebut, saya tidak bisa menghadiri acara keluarga, pesta perkawinan teman-teman dekat, dan bahkan selamatan boyongan rumah anak sendiri. Apalagi rapat-rapat organisasi atau permintaan ceramah. Semua saya hindari.

Saya memang masih tercatat sebagai ketua umum persatuan perusahaan surat kabar se-Indonesia, ketua umum persatuan barongsai Indonesia, persatuan olahraga bridge Indonesia, dan banyak lagi. Selama enam bulan itu, tidak ada rapat yang bisa saya hadiri.

Menjelang enam bulan di PLN, berat badan saya naik 3 kg! Oh, rupanya saya kurang gerak. Hanya dari mobil ke ruang rapat. Dan dari ruang rapat ke mobil. Siang dan malam. Itu tentu tidak baik. Dokter yang tiga tahun lalu mentransplantasi hati saya melarang badan saya terlalu gemuk. Dokter selalu mengingatkan, meski kelihatannya sehat, status saya tetap saja sebagai orang sakit. Di samping harus terus minum obat, juga harus tetap hati-hati. Karena itu, menginjak bulan keenam, saya putuskan ini: berangkat kerja berjalan kaki saja.

Maka, setiap hari pukul 05.45 saya sudah berangkat kerja. Jalan kaki dari rumah saya di dekat Pacific Place Semanggi, Jakarta, ke Kantor Pusat PLN di Jalan Trunojoyo, seberang Mabes Polri itu. Berangkat sepagi itu bukan supaya dianggap sok rajin, tapi ingin menghindari asap knalpot. Tidak ada gunanya berolahraga sambil menghirup CO2.

Beruntung, rute menuju kantor tersebut bisa ditempuh dengan menghantas jalan-jalan kecil yang sepi yang kiri-kanannya penuh pohon-pohon nan merimbun. Pukul 06.30, ketika baru ada satu-dua mikrolet mengasapi jalanan, saya (biasanya ditemani istri) tiba di kantor dengan keringat yang bercucuran.

Hasilnya: selama satu bulan itu, berat badan sudah turun 2 kg. Masih punya utang 1 kg lagi. Mula-mula, berjalan cepat selama 35 menit itu terasa berat. Jarak rumah-kantor tersebut juga terasa sangat jauh. Tapi, kian lama menjadi kian biasa. Bahkan, belakangan jarak itu terasa sedikit kurang jauh.

Betapa relatifnya jarak…

Enak juga sudah di kantor pagi-pagi. Kini, menjadi pemandangan biasa pada pukul 07.00 sudah banyak orang Jepang yang antre di ruang tamu. Demikian juga beberapa relasi PLN lainnya. Bahkan, seorang perempuan yang merasa diperlakukan kejam oleh suaminya juga tahu jadwal saya ini: Sebelum pukul 07.00, perempuan itu sudah menangis di lobi untuk mengadukan kelakuan suaminya. Lalu, minta sangu untuk pulang karena uangnya tinggal pas-pasan untuk datang ke PLN itu tanpa tahu harus bagaimana pulangnya. Suaminya, katanya, sangat-amat pelitnya.

Betapa relatifnya uang…

Selama enam bulan itu, saya dua kali menangis. Sekali di ruang rapat dan sekali di Komisi VII DPR RI. Kadang memang begitu sulit mencari jalan cepat untuk mengatasi persoalan. Kadang sebuah batu terlalu sulit untuk dipecahkan.

Tapi, tidak berarti hari-hari saya di PLN adalah hari-hari yang sedih. Ribuan kali saya bisa tertawa lepas. Ruang rapat sering menjadi tempat hiburan yang menyenangkan. Terutama ketika begitu banyak ide datang dari para peserta rapat. Apalagi, sering juga ide tersebut dikemukakan dengan jenakanya.

Di mana-mana, di berbagai forum, saya selalu membanggakan kualitas personal PLN. Orang PLN itu rata-rata cerdas-cerdas: tahu semua persoalan yang dihadapi perusahaan dan bahkan tahu juga bagaimana cara menyelesaikannya. Yang tidak ada pada mereka adalah muara.

Begitu banyak Ide yang mengalir, tapi sedikit yang bisa mencapai muara. Kalau toh ada, muara itu dangkal dan sempit. Ide-ide brilian macet dan kandas. Kini, di ruang rapat tersebut, semua ide bisa mulai bermuara. Bahkan, meminjam lagunya almarhum Gesang, bisa mengalir sampai jauh…

Memang, ruang rapat sebaiknya jangan penuh ketegangan. Orang-orang PLN itu siang-malam sudah mengurus tegangan listrik. Jangan pula harus tegang di ruang rapat. Ruang rapat harus jadi tempat apa saja: debat, baku ide, berbagi kue, dan saling ejek dengan jenaka. Saya bangga ruang rapat PLN bukan lagi sebuah tempat biasa, tapi bisa menjadi katalisator yang menyenangkan.

Sebuah tempat memang bisa jadi apa saja bergantung yang mengisinya.

Betapa relatifnya tempat…

Sedih, senang, ketawa, menangis, semua bergantung suasana kejiwaan. Pemilik jiwa sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing. Mau dibuat sedih atau mau dibuat gembira. Mau menangis atau tertawa. Semua bisa.

Betapa relatifnya jiwa…

Rasanya, selama enam bulan di PLN, saya juga belum pernah duduk di "kursi" direktur utama. Saya sudah terbiasa bekerja tanpa meja. Puluhan tahun, sejak sebelum di PLN. Setengah liar. Sebab, sebelum di PLN, saya hampir tidak pernah membaca surat masuk.

Jadi, memang tidak diperlukan sebuah meja. Semua surat masuk langsung didistribusikan ke staf yang bertugas di bidangnya. Sebab, kalaupun surat itu ditujukan kepada saya, belum tentu saya bisa menyelesaikannya. Maka, untuk apa harus mampir ke meja saya kalau bisa langsung tertuju kepada yang lebih pas menjawabnya?

Kini, sebagai Dirut PLN, saya tidak boleh begitu. Saya harus menerima surat-surat yang setumpuk itu untuk dibuatkan disposisinya. Inilah untuk kali pertama dalam hidup saya harus membuat corat-coret di lembar disposisi. Apa yang harus saya tulis di situ? Saran? Pendapat? Instruksi? Larangan? Harapan? Atau, beberapa kata yang hanya bersifat basa-basi -sekadar untuk menunjukkan bahwa saya atasan mereka?

Akhirnya, saya putuskan tidak menuliskan apa-apa. Kecuali beberapa hal yang sangat jarang saja. "Mengapa" saya harus memberikan arahan seolah-olah hanya saya yang "tahu" persoalan itu? Mengapa saya harus memberikan instruksi seolah-olah tanpa instruksi itu mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat? Mengapa saya harus memberikan petunjuk seolah-olah saya itu "pabrik petunjuk"?

Maka, jangan heran kalau mayoritas lembar disposisi tersebut tidak ada tulisannya. Paling hanya berisi paraf saya dan nama orang yang harus membaca surat itu. Saya sangat yakin, tanpa disposisi satu kata pun, mereka tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan.

Bukankah karyawan PLN itu umumnya lulusan terbaik ranking 1 sampai 10 dari universitas- universitas terbaik negeri ini ? Bukankah karyawan PLN itu, doktornya saja sudah 20 orang dan masternya sudah 600 orang? Bukankah mereka sudah sangat berpengalaman -melebihi saya? Maka, saya tidak ragu memberikan kebebasan yang lebih kepada mereka.

Inilah sebuah proses lahirnya kemerdekaan ide. Orang yang terlalu sering diberi arahan akan jadi bebek. Orang yang terlalu sering diberi instruksi akan jadi besi. Orang yang terlalu sering diberi peringatan akan jadi ketakutan. Orang yang terlalu sering diberi "pidato" kelak hanya bisa "minta petunjuk".

Saya harus sadar bahwa mayoritas warga PLN adalah lulusan terbaik dari universitas- universitas terbaik. Mereka sudah memiliki semuanya: kecuali kemerdekaan ide itu. Kini saatnya barang yang mahal tersebut diberikan kepada mereka. Saya sangat memercayai, jika seseorang diberi kepercayaan, rasa tanggung jawabnya akan muncul. Kalau toh ada yang tidak seperti itu, hanyalah pengecualian.

Semua itu saya lakukan di meja rapat. Bukan di meja kerja direktur utama. Karena itu, saya juga tidak pernah memanggil staf, misalnya, untuk menghadap duduk di kursi di depan direktur utama. Kalau saya lakukan itu, perasaan saya tidak enak. Mungkin hanya perasaan saja sebenarnya.

Saya tidak tahu dari mana lahirnya perasaan tidak enak tersebut. Mungkin karena dulu terlalu sering melihat Pak Harto di televisi dengan adegan seperti itu. Saya takut merasa menjadi terlalu berkuasa di kantor ini.

Kedudukan tentu tidak sama dengan tempat duduk. Yang merasa berkuasa pun belum tentu bisa menguasainya. Yang punya kedudukan belum tentu bisa duduk semestinya.

Betapa relatifnya sebuah kekuasaan…

Lalu, apa yang sudah kita capai selama enam bulan ini?

Ada yang bilang sudah sangat banyak: menanggulangi pemadaman bergilir di seluruh Indonesia, menyelesaikan IPP terkendala yang sudah begitu lama, mengatasi kacaunya tegangan listrik di berbagai wilayah (orang Aceh, Cianjur Selatan, Tangerang, dan banyak lagi kini sudah bisa mengucapkan selamat tinggal tegangan 14! Sudah bertahun-tahun tegangan listrik di Aceh hanya 14, sehingga sering redup dan merusak barang-barang elektronik. Kini, di Aceh dan banyak wilayah itu, tegangan listriknya sudah normal, sudah bisa 20).

Tapi, banyak juga yang bilang, masih terlalu sedikit yang diperbuat. Bahkan, ada yang bilang, termasuk seorang anggota DPR di komisi VI, bahwa direksi PLN yang baru ternyata bisanya hanya menaikkan TDL. Tudingan tersebut tentu lucu karena bukankah yang bisa menaikkan TDL itu hanya pemerintah bersama DPR? Bukankah direksi PLN itu, sesuai UU, sama sekali tidak punya wewenang menaikkan atau menurunkan TDL?

Betapa relatifnya kepuasan…

(Sebulan sekali, CEO PLN menulis surat kepada seluruh karyawan PLN. Inilah cara Dahlan Iskan untuk memotivasi dan berkomunikasi langsung dengan seluruh karyawannya. Surat itu diberi nama CEO’s Note. Tujuannya, seluruh karyawan PLN yang lebih dari 40.000 orang itu bisa langsung membaca jalan pikiran dan keinginan pimpinan puncak perusahaan. Setiap kali CEO’s Note terbit, banyak tanggapan dari karyawan melalui forum e-mail perusahaan. Artikel ini adalah CEO’s Note edisi ke-6 bulan Juli 2010).

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar Matematika Online | :: matematika jadi menyenangkan ::

http://math.bentangilmu.com/
link ini di dapat dari Bu Guru Irma, buat belajar eisha safa dan teman-teman nih, terima kasih yaaa Bu Irma :) *kiss* :)

Selasa, 27 September 2011

Tombo Ati - Ihsan - Sang Pencerah. (IPH's video collections)

Check out this video on YouTube:

http://www.youtube.com/watch?v=uuh8G8sOzsE&feature=youtube_gdata_player


Sent from my iPad2

Senin, 12 September 2011

Buah Permen


Bismillahirrahmanirrahim

Apa kabar multiply?
Tetap asik ya..
Bunda sekarang lagi kesengsem twitter
Jadi jarang ke mp deh :P

Tapi kalau mau curhat atau tulis tentang anak-anak,
Mau gak mau,balik lagi ya pulang kampung ke mp, tempat yang nyaman untuk cerita-cerita :)

Bunda mau tulis cerita tentang adik Safa, yang lucu..

Safa suka sekali buah, segala buah dia suka, berbeda sekali sama Kakak Eisha yg cuma suka beberapa jenis buah.

Tapi ternyata Safa tidak suka pepaya, tercetus saat kemarin bercakap-cakap sama Bunda tentang Buah kesukaan.

Bunda: "Safa suka buah pepaya ga?"
Safa: "aku ga suka pepaya"
Bunda: "kenapa Safa ga suka pepaya?"
Safa: "karena rasanya ga manis."
Bunda: "terus Safa sukanya buah apa?"
Safa: "aku suka buah semangka, melon"
Bunda: "terus apa lagi?"
Safa: "aku suka buah mangga, kelengkeng"
Bunda: "terus buah apa lagi"
Safa: "aku suka buah permen.."
Bunda: "loh kok buah permen, memang ada buah permen?"
Safa: "iyyyaa, kan ada permen rasa buah stowberry, rasa buah jeruk...."

laahhh....:D

He he he Safaaaaa nihhhh bisa aja deh ah :D


Powered by Telkomsel BlackBerry®