Rabu, 14 April 2010

berada dalam normalitas

Bismillahirrahmanirrahim

Saya senang membaca status dan blog orang
karena tulisan mereka memberikan pengetahuan baru
dan memperluas pandangan saya insya Allah

ada sharing blog yang menginspiasi saya untuk menulis kali ini
adalah sharing Bunda Riyyani disini:
http://riyyani.multiply.com/journal/item/21/Anak-anak_Karbitan

Sharing Bunda Riyyani diatas 
menginpirasi saya untung mengungkapkan isi hati saya
tentang normalitas anak...

Dulu waktu saya masih kuliah S1 di FEUI
kebanyakan dosen memberi nilai akhir mata kuliah 
menggunakan distribusi normal
menjadikan kita mahasiswa mereka ini deg-degan
dan bertanya-tanya di manakah nilai kita berada dalam kurva (distribusi) normal?

apakah di kutub sisi kanan kurva dimana terdapat nilai tertinggi di kelas?
atau malah parahnya di sisi kiri dari kurva nomalitas, 
dimana nilai terendah di kelas berada
masing-masing kutub biasanya cuma berisi 5%
dari keseluruhan jumlah mahasiswa.
sedikit sekali bukan?
kalau ada 40 mahasiswa, maka mungkin bila menggunakan alpha 5 %
maka mahasiswa "jenius" diatas normal (yang mendapat nilai mutlak A) 
jumlahnya hanya sekitar 2 orang saja.

tentu saja biasanya separuh lebih kelas 
berada pada posisi tengah (on average normal score)
dimana rata-rata nilai kelas berada...
untuk saya saat itu sebagai mahasiswa,
daerah tengah kurva normalitas ini adalah nilai aman,
kalau mau dibilang cukuplah untuk lulus mata kuliah tersebut...hehe


Nah terkait dengan normalitas anak,
sekarang ini saya melihat fenomena banyaknya orang tua
resah atas normalitas anak-anak mereka
(termasuk saya didalamnya mungkin)

ditambah lagi orang tua sekarang
seringkali dibuat panik oleh berbagai iming-iming
dan ketakut-takutan tidak jelas dari berbagai tawaran marketing
perusahaan-perusahaan jasa kursus
yang mengaku bisa mengakselerasi
kemampuan anak-anak mereka
menjanjikan anak-anak kita bisa dibuat cepat pintar dan cepat matang:
mulai dari les A, les B, les C, les D,
metode membaca usia dini, les matematika, les bahasa  cas cis cus
yang semua-semuanya menjanjikan anak akan lebih unggul

kalau meminjam istilah kurva nilai diatas
sang anak akan diusahakan berada pada kutub kanan atas
berada diatas normal
dari anak kebanyakan

lalu bagaimana dengan mereka yang rata-rata?
anak-anak yang berada pada normalitas?
mereka yang baru bisa membaca pada usia 7 tahun?
seperti kebanyakan kita dulu
mereka yang di usia 4 tahun dan belum mengenal 
kata-kata how are u, medium, large, small
dan istilah bahsa asing yang lain?
mereka yang belum hafal perkalian diusia 6 tahun?
apa berarti mereka adalah bibit yang tidak unggul?
apakah berarti mereka tidak akan menjadi manusia hebat dewasa kelak?

nah nah, saya akui nih sebenarnya saya juga termasuk orang tua
yang mudah terprovokasi oleh apa yang dilakukan orang tua lain
dan kalau lagi kurang kewarasannya,
akhirnya saya terjebak dalam membandingkan
anak-anak saya dengan anak-anak lainnya
dimana hasilnya adalah malah saya, ibu dari Eisha dan Safa
sedih tak menentu kalau Eisha Safa "dirasa ketinggalan":
semuanya keluhan bergelayut diotak:
duh anakku belum bisa baca, duh belum pintar berhitung, 
duh tulisannya belum rapih
duh belum bisa bahasa inggris, dan lain-lain

istighfar harusnya saya ya...

lalu jika anak-anak kita berada pada area normalitas ini
perlu gusarkah kita sebagai orang tua?

Terkadang keresahan ini sudah bermunculan di hati orang tua
bahkan saat sang anak baru mulai tumbuh dan berkembang

misalnya iika anak kita usia 12 bulan belum berjalan
anak kita masih tertatih-tatih melangkah, 
sementara melihat ada anak lain yang usianya 10  bulan sudah berjalan,
melihat anak ibu itu usia 12 bulan sdh lancar melangkah?
banyak orang tua merasa gusar tentang hal ini
saya mendengarnya sendiri, (atau mungkin saya pernah rasakan sendiri dulu ya?)
mendengar para ibu berkeluh kesah
kok anakku belum jalan ya? kok anakku belum bisa titah ya?

padahal pada usia tersebut adalah normal
anak masih dalam fase belajar berjalan
dan bukan lancar berlari

atau kembang kempiskah hidung kita karena demikian bangganya
karena anak kita berada diatas normal
salah satu contoh yang saya alami adalah
ketika anak saya si sulung Eisha tidak melewati fase merangkak
namun langsung berdiri dan berjalan
padahal normalnya adalah anak berjalan melalui fase merangkak, berdiri lalu titah bukan?

dulu saya merasa wah oke nih si Eisha langsung jalan tanpa merangkak
sampai ditemukan hasil riset yang memastikan
bahwa setiap anak perlu melewati fase merangkak
dalam proses ia berjalan,
karena dengan merangkak,
ada hormon yang dirangsang untuk memperkuat fungsi otaknya
sampai-sampai dianjurkan bagi anak yang melewatkan fase merangkak
dan sdh "terlanjur" lancar berjalan
melakukan kembali tahapan merangkak ini...
dan ini yang dilakukan  Eisha,
walau sudah besar Eisha mesti mengulangi fase rangkakannya itu sekarang
yaitu dengan bermain yang membutuhkan aktivitas merangkak
seperti bermain kuda-kudan ^^ hehe

...karena ya normalnya seperti itu..dan itu PERLU tenyata...


walau ya tentu saja ya bunda
untuk anak yang extraordinary, sangat pintar, sangat mandiri
kita akan bersyukur karenanya...alhamdulillahirrabbil alamin
orang tua mana yang tidak suka anaknya punya kelebihan
tapi apakah salah juga jika anak kita berada pada normalitas usianya?
tidak tentu saja, itu BAIK-BAIK saja, insya Allah...

karena biasanya sesuatu yang sengaja dibuat abnormal 
(termasuk super)
punya trade off-nya sendiri
sepeti bunga instant yang disemprot cairan hormon
bunga itu akan cepat mekar dengan indah memang setelah ia disemprot
tapi dalam satu hari bunga tersebut juga langsung rontok berguguran
kalau kata psikolog menyebut fenomena ini sebagai: "early ripe, early rot",

cepat tumbuh tapi cepat pula layu...

istighfar lagi saya...

akankah kita lakukan hal ini ke anak-anak kita?

Orang tua yang merasa gusar
jika anaknya berada diarea average normal,
mungkin mulai mencari-cari cara mem-boost kemampuan anak-anak kita,
membuat mereka cepat matang namun trade offnya mereka cepat juga menjadi "layu"
orang tua mulai melalakukan tindakan ketidakpatutan terhadap anak (Faizah, 2009)

untuk lebih validnya  alinea dibawah ini sampai alinea terakhir adalah 
kutipan dari tulisan ibu Dewi Utama Faizah (2009)
-BUKAN TULISAN SAYA YA BUNDA-

kutipan ini diambil dari tulisan beliau tentang "Anak-Anak Karbitan"
link lengkapnya:  

Ibu Fauziah merupakan anggota
Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, 
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter 
divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Diantara indikator orang tua
untuk melakukan berbagai ketidakpatutan terhadap anak. 
Diantaranya yang paling menonjol adalah
orientasi pada kemampuan intelektual secara dini.
Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib
dengan kepintaran intelektual luar biasa.
Mereka dicoba untukmenjalani akselerasi dalam pendidikannya
dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik
di dalam dan di luar sekolah. (Faizah, 2009)

"Early Ripe, early Rot...!"

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di
masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif.
Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga.
Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda 
untuk melakukan "Early Childhood Training". 
Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. (Faizah, 2009)

Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak
mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). 
Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif 
yang mengfungsikan belahan otak kiri. 
Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. 
Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak 
dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. 
Hal ini terjadi sekarang
di mana-mana, di Indonesia. (Faizah, 2009)

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan 
memperlihatkan bagaimana pengaruh tekanan dini 
pada anak akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian 
dan emosi pada anak. 
Oleh karena ketika semua menjadi cepat mekar.... 
kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak dipedulikan! 
Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh,
untuk belajar dan untuk berkembang, sebuah proses dalam kehidupannya !'
(Faizah, 2009)

Kecenderungan orangtua menjadikan anaknva "be special" 
daripada "be average or normal" sernakin marak terlihat. 
Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi "to excel to be the best". 
(Faizah, 2009)

Sebetulnya tidak ada yang salah. 
Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai
mengikuti berbagai kepentingan orangtua 
untuk menyuruh anak mereka
mengikuti beragam kegiatan, 
seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa,
renang, basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak
lagi lainnya...maka lahirlah anak-anak super---"SUPERKIDS' ". 
Cost merawat anak superkids ini sangat mahal. (Faizah, 2009)

Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". 
Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak 
karena mereka percaya "earlier is better". 
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam
pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. (Faizah, 2009)


Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar
karbitan ini terjadi pada tahun 1930,
seperti yang dimuat majalah NeYorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis,
putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera
masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. 
Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. 
Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. 
Namun apa yang terjadi kemudian? 
James Thurber seorang wartawan terkemuka
pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, 
yang tak lain adalah William James Sidis. 
Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat
orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Sedangkan seperti halnya Einstien 
yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas
3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun. (Faizah, 2009)

Neil Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan
bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka
lihatlah... ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi
orang dewasa yang ke kanak-kanakan! (Faizah, 2009)


*semoga kita bisa memetik hikmahnya ya Ayah ya Bunda, utamanya saya sendiri nih*
*dan semoga kita selalu bersyukur anak kita berada pada normalitas usianya, insya Allah*
*wallahu a'lam bishowwab, alhaqu mirrabbik*


Selasa, 13 April 2010

tidak ada yang salah dengan menjadi sama

Bismillahirrahmanirrahim

Tulisan ini terinspirasi oleh
beberapa hal dan kejadian

salah satunya terinspirasi oleh status pak Pras,
dosen marketing saya waktu di MMUI dulu,
di statusnya beliau menanggapi fenomena tentang
pandangan orang-orang terhadap  seorang Bapak berumur..
sebut saja pak Trimo..
seorang penjaja es teh manis di SMA 6 sana
yang dari dulu  saat pak Pras sekolah sampai sekarang
hampir 20 tahun
masih tetap berjualan es teh di pinggir sekolahnya.

Kebanyakan orang memandang pak Trimo ini
sebagai orang yang tidak maju-maju,
sama dari waktu ke waktu, tidak ada progress,
hidupnya begituuu-begituuu saja..

tapi pak Pras tidak begitu,
ia memandang pak trimo sebagi orang yang konsisten,
konsisten melayani anak sekolah yang haus sepulang sekolah
dengan jajanan  jualan minumannya...
Pak trimo bukanlah orang yang hidupnya membosankan
ia sebaliknya adalah orang yang ikhlas berusaha
dengan hal yang sama dr waktu ke waktu

adakah hal yang salah dengan kesamaan pak trimo selama itu?
saya sepakat dengan pak pras: tidak, tidak ada yang salah

ada satu cerita lagi..
sebutlah pak Narsun
seorang bapak tua penjual mainan di depan sekolah TK Eisha
setiap jam pulang sekolah ia akan siap bersama sepedanya yang penuh dengan susunan mainan serba murah rata-rata lima ratus sampai seribuan perak
menyambut anak sekolah TK keluar dari gerbang dan melihat-lihat mainannya
syukur-syukur jika ada yang membeli
ia sudah menjalani hidup berjualan mainan ini bertahun-tahun
mendapat omset penjualan 30-50 ribu setiap harinya
yang dipakai sebagian untuk makan

ia tetap melakukan hal yang sama
walaupun sebenarnya anak-anaknya sudah dewasa
sudah tidak membutuhkan nafkah dari sang bapak
dan sanggup menghidupi sang bapak
namun Pak narsun tdk mau
ia ingin berusaha sendiri
memegang uang sekedarnya dari jerih payahnya sendiri
dari tetap berjualan mainan
ia rela tidur di emperan di toko-toko setiabudi setiap malam
dan baru tiap dua minggu sekali pulang bertemu
dengan anak cucunya di cibinong bogor sana
subhanallah, jadi apa ada yang salah jika seorang bapak tua tetap sama berjulaalan mainan sepanjang hidupnya? apa ia adalah orang yang kolot?orang yang tidak mau maju?

Tidak, tentu saja tidak bukan?
kesamaan yang dijalani pak Narsun selama ini
adalah untuk harga dirinya,
untuk martabatnya dari tidak meminta-minta kepada orang lain
dari menggantungkan hidup materinya kepada anak-anaknya

Subhanallah,
dan astghfirullah terucap
selama ini mungkin kita telah salah memandang orang
memproyeksikan mereka sesuka hati kita
melecehkan cara hidup mereka,
menghina pekerjaan mereka yang sama dari waktu ke waktu dalam hati kita
merendahkan nasib mereka yang sama dan terlihat monoton
dan terlihat berjalan di tempat

tapi tahukah
mungkin sesungguhnya niat dan tujuan mereka lebih pasti
dan ikhlas dari
jalan kita, dari cara kita...

Lihatlah sekali lagi cerita yang lain..
sebut saja pak Taufik
adalah seorang bapak tua
tukang parkir di suatu Sekolah Menegah Atas di Jakarta
sama seperti halnya bapak Narsun dan pak Trimo
ia sudah belasan tahun menjadi tukang parkir di tempat yang sama

ketika ditanya: bosankah ia menjadi tukang parkir? ia menjawab: tidak.
ketika ditanya lagi: inginkah ia berpindah pekerjaan ke pekerjaan yang lebih baik?
jawabannya: tidak.
ketika ditanya lagi: mengapa Bapak tetap bertahan hanya sebagai tukang parkir?

Inilah jawaban Pak taufik:
karena dengan menjadi tukang parkir hidupnya menjadi lebih berarti,
ia anggap pekerjaannya ini adalah cara satu-satunya
ia bisa mengumpulkan bekal
di kampung akhirat kelak,
karena ia tidak punya apa-apa untuk berbagi
atau bersedekah

Benarkah hanya menjadi seorang tukang parkir bisa menjadi lebih berarti?
bagaimana caranya?

Inilah jawaban Pak taufik:
yaitu dengan mendokan setiap orang yang datang dan pergi dari tempat parkir
ketika setiap mobil pergi dari tempat parkir yang berada ia di dekatnya, Pak Taufik berdoa
doa yang ia panjatkan adalah:
"Ya Allah semoga Bapak/Ibu/anak itu selamat sampai tujuan"

Semoga kata pak Taufik, doa yang dia haturkan sebagai tukang parkir selama ini
menjadi dzikrnya dan menjadi tabungan amalannya kelak di akhirat...


subhanallah..subhanallah...subhanallah

*semoga kita bisa mengambil hikmahnya



Jumat, 26 Maret 2010

Naik-naik ke Puncak (bukan gunung)




Ini momennya dah lamaaa banget

pergi ke daerah Puncak Bogor..

Sebenernya ini adalah acara kampus Bunda di Puncak

Berhubung kasihan ga tega ninggalin anak2,
Ayah sama Eisha dan Safa ikutan juga

kita ke puncak bareng2 deh
dan ada tambahan teman Bunda juga
yang namanya Lela dan putrinya Key
mereka juga mau ke Puncak ke Villa kantornya di Puncak Pas

Kalau Bunda dikasih penginapan gratis sama kampus
di Hotel Novus alhamdulillah

Puncak tuh memang masih tetap
jadi tempat rekreasi favorit keluarga Jakarta
habis daerah yang paling sejuk deket Jakarta ya adanya itu
walaupun jalan menuju kesananya kalau weekend
macetnya ampun-ampunan
baik pas pergi atau pas pulang sama-sama macet

tapii enjoy ajaaa yaa...hehe

Selasa, 23 Maret 2010

Dari Ibnu Umar r.huma, Rasulullah saw bersabda: "Tidak diperbolehkan hasad (iri hati) kecuali terhadap dua orang: Orang yang dikaruniai Allah kemampuan membaca Al-Quran, lalu ia membacanya pada malam dan siang hari; dan orang yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari." (HR Bukhari, Tirmidzi dan Nasai)

that's not mine...

Bismillahirrahmanirrahim

Cerita lagi dari Bunda tentang adik Safa

Safa punya kebiasaan yang berbeda dengan sang kakak
Safa sangat menjaga batas-batas kepemilikan
kepemilikan atas benda-benda, pakaian, mainan
yang punyanya dan yang bukan punyanya

Seperti begini:

Suatu malam, adik Safa bersama Kakak Eisha
makan mie bersama
masing-masing mendapat satu piring mie
nah mungkin karena saat itu Safa sangat lapar
mie dalam piring Safa habis dalam sekejab
sementara mie kakak Eisha masih banyak di piringnya

Sang mba (Mba Ningsih) mengambil inisiatif
karena melihat Safa terlihat masih pingin makan mie
sementara mie di piring Safa sudah habis
Mba Ningsih mengambil mie di piring kakak Eisha
dan diberikannya ke adik Safa

Tapi apa kata Safa?
Safa bilang: "Ga oleh, ga oleh mbaa (ga boleh, ga boleh mbaa)"
"Itu unya ka Eisha (Itu punya Kak Eisha)"
"Ukan mie Capa (Bukan mie Safa)"

hohoho...

Cerita yang sama terjadi kemarin dan hari ini:
Kemarin Minggu, Safa baru pulang dari rumah nenek di kelapa dua depok
disana Safa dan Kak Eisha membeli mainan perlengkapan hair dryer
yang isinya: jepitan, roll rambut,  dan lain-lain

Ternyata setelah pulang ke Setiabudi
dan kumpulan mainan itu dibuka,
Safa melihat cermin kecil ada di antara kumpulan mainan itu:
kata Safa ke Bunda: "Nda, ini ukan punya Capa (Bunda, ini bukan punya Safa), ini punya Ali (sepupu Safa)"
"Kok di awa, nda oleh kan? (kok dibawa, ga boleh kan?)"

dan pagi ini,
Bunda hendak mengantar Safa keluar rumah
Bunda asal saja mengambil sandal yang ada di rak
ada sandal karet berwarna orange dan itu yang Bunda pakai
Safa melihat, dan katanyaaa: "Nda, angan pake sandal itu, tu unya kakek, sandal oyenj"
(Bunda jangan pakai sandal itu, itu punya kakek, sandal orange)


Subhanallah, ga boleh ya naak kita pakai  yang bukan punya kita...
mengambil yang bukan punya kita,
memakan yang bukan haq kita,
terima kasih ya sudah mengingatkan Bunda...

Rabu, 17 Maret 2010

minta maaf dan jangan marah-marah

Bismillahirrahmanirrahim

Hampir seminggu ini Bunda full day di rumah
tidak ke kampus
selain adanya harpitnas (hari kejepit nasional)
karena Ayah sedang tidak enak badan
kena gejala tipes

Hmmm tapi seorang ibu yang berada di rumah full day
adalah suatu kenikmatan yang luar biasa
Semua-muanya puas dipegang sendiri
mulai dari memandikan anak-anak, kasih maem safa, bermain dengan kakak, bobo bareng ^^
semuanya bisa kita pantau

Sebenarnya Safa sedang dilatih toilet training...
Bunda sudah bilang ke Safa: "Safa, kalau pipis dimana ya?"
Safa jawab: "di amar mandi, Bunda (di kamar mandi Bunda)"
Bunda: "bukan di kasur ya?"
Safa: "ukaaaan (bukaan)"
Bunda: "kalau pipis di lantai boleh ga"
Safa: "ga oleeeh (ga boleeh), alo pipis di amar mandi (kalo pipis di kamar mandi)"

good..

terkadang Safa pintar,
bilang kalau mau pipis
sampai bisa lepas celana sendiri
dan tahu2 ngacir ke kamar mandi

tapi terkadang masih bocor juga hehe
tahu-tahu sudah basah aja celananya ^^

Tapi safa lucu,
dia tahu kalau ngompol itu ga boleh
jadi kalau safa ngompol
dan ketawan bunda
Safa bilang begini
sambil liatin dan tatap mata Bunda

"Bunda, bundaaaa"
terkadang ditambahin:
"Bunda antiiik (Bunda cantiik),
"Aku inta maap (aku minta maap)"


"kenapa Safa minta maaf, naak?" tanya Bunda
Bunda sebenarnya tahu kenapa safa tiba-tiba minta maaf

Safa: "Capa inta maap (Safa minta maaf),
soalna, kalna (soalnya, karena)
capa pipisna di cana (Safa pipisnya di celana)
ukan di amar mandi (bukan di kamar mandi)"

Ga cuma sampai disitu, Safa melanjutkan:
"Bundaa, Bunda ga malah-malah (marah-marah) yaa"

Duuh Safa, kalo safa omong begitu
siapaaa coba yang tega marah

Minggu, 14 Maret 2010

kan ada Allah..

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah lama saya tidak menulis blog
hanya sekedar blog walking
tengok sana tengok sini
membaca sharing dr blog teman
itupun tanpa meninggalkan jejak (comment) duh maaf ya

Hari ini Bunda ingin cerita tentang adik Safa
yang bulan Maret ini usianya sudah 2 tahun 8 bulan
Safa sudah bisa ngobrol dan sedikit sedikit
bisa memberi nasihat ke sang kakak, Kak Eisha

Seperti pada kejadian ini:
Nah seperti yang pernah saya baca di buku Parenting
bahwa orang tua atau siapapun tidak dianjurkan
menakut-nakuti anak terutama dengan sesuatu yang tidak terlihat
kasat mata
seperti yang dulu sering dilakukan oleh kebanyakan orang
kepada anak kecil (termasuk saya kecil juga tuh)
paling sering ditakut-takuti dengan "hii ada syetan"

insya Allah kami berusaha tidak melakukan hal ini
ke anak-anak, tidak menakut nakuti mereka dengan setan dan sejenisnya
ya gendoruwo, jin ireng, kuntilanak, buto ijo, dan kawan-kawan

Tapi ternyata kecolongan juga sih
terutama si kakak Eisha yang sudah sekolah
dan sudah punya banyak teman main

Seperti ini: Tiba-tiba pulang sekolah kak Eisha bilang:
"Bunda, Buto ijo apa sih? Aku takut ah sama Buto ijo?"
"hah Buto ijo, itu nama raksasa yang ada di dongeng-dongeng Eisha"
Bunda coba menjelaskan , "Buto ijo itu tidak nyata eisha, jadi Eisha ga perlu takut"
"Dan yang pasti kan ada Allah bersama Eisha, Allah akan menjaga kita kan"
"Oh iya Bunda" Eisha setuju. Alhamdulillah.

Nah di waktu yang lain
saat hendak membeli popcorn di Setiabudi one
biasanya kita akan melewati satu lorong panjang yang gelap
Nah kak Eisha mulai deh muncul rasa takutnya.
"Bundaa, aku takut, gelap, takut ada syetan"

Tak dianya, sang adik, Safa langsung berujar
seperti arti namanya: menenangkan
adik Safa mencoba menentramkan hati si kakak:
"gapapa kok kak Ecaa (Eisha), gapapa. ga ada cetaan (setaan) kok,
kan ada Alloh, kan ada Alloh kak Ecaa (Eisha),
Jangan takut ceetan yaa"

hihi, tuh kak Eisha dengerin yaa kata adik..