Selasa, 24 Juli 2012

Celetukan-celetukan Sholehah :)

Bismillahirrahmanirrahim

Sudah lama sekali ya Bunda tidak menyambangi rumah maya yang satu ini
dan sdh banyak juga cerita tentang Eisha Safa yang tidak tercatat (hiks)

Nah mumpung bulan Ramadhan...
Bunda mau tulis celetukan-celetukan Eisha Safa edisi sholehah Nahini ceritanya:

***********************************************

Catatan Bunda (20 Juli 2012)

Malam hari Eisha bilang begini,
"Bunda aku tadi subuh bangun, tp yg lain blm bangun,jd aku sholat sendiri."
Bunda: "pinter Eisha, pinternya anak Bunda"
Namun Eisha menyahut lagi:
"tapi Bunda aku kerjakan shalat tadi subuh bukan berharap pujian Bunda kok,
tapi memang hanya karena Allah."

*wah naaakk dengar jawaban kamu jadi berbunga2 hati Bunda*


***********************************************************************

Catatan Bunda (23 Juli 2012)

Pengalaman Bunda diingatkan Safa:
Dua hari lalu Safa menari-nari di kamar,
saking semangatnya menari Safa hendak menarik tali baju di lemari baju.
Bunda yang melihat mendadak gusar,
karena khawatir seluruh baju berhamburan jatuh dan berantakan.
Spontan Bunda berteriak:
"Safaaa, duh jangan, itu kan baju!.
Safa yang kaget pun bilang: Bundaa, kasih taunya yang baik ya
*dengan nada yg sangat lembut*
*malu hati Bunda jadinya yaaa*


*************************************************

Catatan Bunda (25 juli 2012)
Ini obrolan anak-anak edisi Ramadhan.
Tadi pagi si Mba ajak adik Safa nyanyi pelangi-pelangi.
Kakak Eisha ikutan nyanyi bareng.
Nah, sampai bait terakhir, "pelangi-pelangi ciptaan......."
Si Mba nyanyinya "ciptaan Tuhan" sementara Eisha nyanyi "ciptaan Allah".
Kata Mba: "ih Kak Eisha, kok bedaa??".
Kata Eisha: "ih mba Utin, memang harusnya ciptaan Allah, bukan Tuhan. Tuhan itu kan belum tentu Allah, Tuhan bisa juga patung atau yang lain, yang disembah sama orang musyrik"

*hihi si Mba, pagi-pagi sdh diceramahin anak kecil *

Senin, 20 Februari 2012

Obrolan Suka-suka Anak: Buah, Beda Rasa, dan Mouse :)

Bismillahirrahmanirrahim
Sudah lama Bunda tidak menulis catatan tentang Safa
Berikut Bunda tuliskan rekaman obrolan suka-suka Safa (4 tahun)
jadi nanti jika dibaca kembali oleh Bundanya atau Ayah Safa,
akan menghibur hati

*************


Tentang Buah

Bunda: Safa suka buah apa?
Safa: aku suka buah banyak: rambutan, klengkeng, apel, anggur,
pisang, lechee, jeruk, manggis
Bunda: Kalau mangga?
Safa: kalau mangga yang manis aku suka
Bunda: hmm kalau Duren?
Safa: aku ga suka, soalnya ada tusuk-tusuknya
(maksudnya duri hihi)
Bunda: kalau nanas
Safa: kalo nanas, safa belum coba, nanas yg kayak apa?
Safa melanjutkan: mmmmmm nanas tuh yg kayak rumahnya sponge bob ya?

he he he wah iyaa sih
*dasar anak sekarang kok larinya ke situ ya *


**************************

Tentang Rasa

Bunda dan Safa ceritanya sedang mengisi lembar belajar
yang baru saja dibeli di toko buku

Perintah 1: Lingkari makanan yang rasanya manis dengan warna merah
Safa melingkari gambar gula, anggur, dan pisang dengan spidol merah
Bunda: loh kok gambar coklatnya ga dilingkari,Safa?
Safa: mmm enggak, kalo coklat kan rasanya enak, Bunda
**hooo begitu yaaa beda ya enak sama manis? ***


Perintah 2:  Lingkari makanan yang rasanya asam dengan warna kuning
Safa melingkari gambar jeruk lemon dan apel berwarna hijau dengan spidol kuning
Bunda: kok gambar jeruk yg lain (orange) ga dilingkari Safa?
Safa: tidak nda, jeruk orange kan rasanya bukan asam
tapi manis sama asam, Safa sukaa....

****Hooo iya juga  rasanya jeruk manis-manis asam ya :)*


********************************************

Tentang Hewan

Ceritanya Safa habis dari Kebun Binatang liburan yang lalu
lalu Ayah bercakap-cakap sama Safa

Ayah: Safa apa ya bahasa Inggrisnya Burung?
Safa: Bird
Ayah: pintar, kalau bahasa inggrisnya gajah?
Safa: oh, elephant
Ayah: nah sekarang, kalau tiger itu apa ya?
Safa: hiii itu kan macan, Safa takut macan
Ayah: wah takut kenapa?
Safa: iya , Safa takut diterkam sama macan
Ayah: ga kok, kan macannya dikurung, jadi ga bisa keluar
Ayah melanjutkan:  kalau crocodile itu apa, Safa?
Safa: hii Safa juga takut sama crocodile, kemarin liat di kebun binatang,
crocodile itu kan buaya
Ayah: wah Safa pinter, nah sekarang, kalau mouse itu apa ya safa?
Safa: ohhh, aku tahu Ayah, kalau mouse itu kan yang buat main komputer!

*grrrrrrrrr ha ha dasar anak komputer * 

Jumat, 17 Februari 2012

Kisah Si Ranking 23 di Sekolah

Bismillahirrahmanirrahim
Kisah cerita ini baru saja saya baca di milis pengajar kampus
Sumber pertamanya tidak jelas memang
saya sudah berusaha mencari sumber pertamanya di Google, tapi tidak ketemu juga
mungkin sudah banyak yang membaca kisah ini ya
kisah menarik sekali tentang anak,
bisa menjadi pelajaran untuk kita sebagai orang tua.
Insya Allah

******************************************************

Kisah Si Ranking 23 di Sekolah:
“Aku Ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”


Apakah Anak-ku harus rangking 1?

Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?

Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.

Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.

Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.

Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira.

Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya.

Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja.

Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.

Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.

Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.

Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas?

Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi?

Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
- Khalil Gibran

Senin, 14 November 2011

Matahari, Allah, dan Lapar di Surga

  Bismillahirrahmanirrahiim

Percakapan dengan anak sangat menghibur kita ayah dan bundanya.
Mereka siap bercakap, berbicara, dan bertanya tentang apa saja yg terlintas di fikiran mereka.

Unik, lucu dan terkadang mengagumkan melihat pembicaraan anak-anak ini ya.

***Matahari dan Allah***

Saat makan bersama dengan Ayah dan Bunda, anak-anak mengobrol tentang Matahari

Eisha:" Bunda, sinar ultraviolet matahari itu merusak ya?"
Bunda: "Tidak juga Eisha, sinar ultraviolet matahari hanya akan merusak bila terlalu banyak"

Bunda menyambung: "Tapi sinar ultraviolet juga bermanfaat kok, dia bisa mematikan kuman, bakteri, juga mengandung vitamin D untuk pertumbuhan tulang kita"

Eisha: "oh begitu"

Eisha bertanya lagi: "Kalau matahari dengan Allah itu besaran siapa ya?"

Adik Safa yg sedang makan (tapi ternyata ikut mendengarkan) bersegera menjawab: "Ya Allah -laaah"
"Allah lebih besar"

****ah Safa pintaar :) ****

Lanjut lagi percakapan yang lain, di malam yg sama, saat makan

Eisha: "Bunda, aku pingin sekali masuk Surga"

Bunda: "iya, insya Allah, Kalau Eisha baik juga hapal Qur'an, Eisha pasti masuk surga" :) *ini ceritanya Bunda memotivasi*

Bunda lanjutkan: "nanti Surganya memangil-manggil: Eisha anak sholehah, mari masuk kesini"

Eisha dan Safa tertawa :D

Eisha lanjut bertanya: "Bunda, memang di Surga, orang tidak merasa lapar ya? "

Jawab Bunda: "iya, di Surga, orang tidak akan merasa lapar juga tidak akan merasa ngantuk"

Eisha bertanya lagi: "Kalau di Surga orang tdk merasa lapar, lalu kenapa di Surga banyak makanan, Bunda? "

Bunda: errrr.....*kenapa ya,Bunda bingung jawabnya* :P

Melihat Bunda diam-mikir, Ayah bantu menjawab: "Iya, karena di Surga banyak makanan itulah, jadi orang tidak merasa lapar. Jika Eisha mau makan, makanan langsung datang, jika mau sesuatu langsung ada, begitu..."

Eisha: "oh begitu..."


***anak-anak, obrolannya membuat ayah Bunda berfikir dan tersenyum :D***

"Anak-anak kecil dan orang-orang jenius mempunyai persamaan yang penting - rasa ingin tahu. Biarkan rasa ingin tahu itu berkembang pada masa kanak-kanak, sebab mungkin mereka akan menemukan sesuatu yang ditemukan orang-orang jenius" -Edward G. Bulwer Lytton

Powered by Telkomsel BlackBerry®




Kamis, 10 November 2011

Percakapan Edisi Go Green

Bismillahirrahmanirrahim

Benar ternyata, sepertinya menanamkan sikap baik dan positif lebih efektif kepada anak-anak (dibanding ketika dewasa) ya.

Anak-anak lebih menyerap penjelasan positif dan langsung mengamalkannya :)

****

Sepertinya belakangan ini, Eisha menerima materi tentang cinta lingkungan dan hidup go green di sekolahnya, karena berkali-kali Eisha bertanya ke Bunda tentang: apa itu go green, kenapa kita harus hemat air, kenapa kalau pergi lampu harus dimatikan, dan lain-lain

***

Ternyata anak-anak ini mendengarkan penjelasan, dan menancapkannya dalam hati. Mungkin tidak seperti kita (orang dewasa) yg kadang lupa, atau kalau kata orang: masuk kuping kiri keluar kuping kanan he he

Anak-anak justru ingat dan langsung mengamalkan apa yang didengar dan diresapi

***

Suatu sore, adik Safa mencuci tangan di wastafel dengan menyetel air kerannya sangat besar.

Kata Kak Eisha: "Safa, setel air kerannya jangan besar-besar."

Kata Safa: "iyyaa"

Kata Kak Eisha: "kita harus hemat air. Jangan buang-buang air. Kita harus Let's keep the green"

***wah Kakak :) ***

Suatu sore, adik Safa mengambil gunting hendak menggunting-gunting kertas

Kakak Eisha yang melihat, bilang ke adik:
"Safa, kalau mau menggunting pakai kertas bekas saja ya, jangan kertas yang baru"

Adik Safa: " iyaa"

Kata Kak Eisha: "kasihan soalnya pohon banyak ditebang untuk kertas, nanti hutannya jadi gundul"

Bunda yang dengar: "Memang kenapa kalau hutannya gundul Sha"

Kata Eisha: "nanti jadi banjir, dan bumi jadi rusak, tanahnya jadi retak-retak"

Hoooo I see, begitu ya :D




Powered by Telkomsel BlackBerry®